Jumat, Januari 20, 2017

Teruntuk kamu, yang belum lama terucap dalam doa

Kepada kamu yang mungkin beberapa bulan ini sedang ku perbincangkan terhadap Tuhan..

Setelah kejadian patah hati terhebatku itu berlalu, aku menganggap hampir semua lelaki itu sama, Oh tidak tidak aku tak menganggap semua lelaki itu 'brengsek' ataupun menjijikkan karena aku masih memiliki ayah, adik dan sahabat berjenis kelamin Laki-laki. Entahlah aku hanya merasa tak begitu percaya dengan laki-laki.

Berulangkali beberapa hadir untuk mengobati luka, agar aku moveon. Sumpah, tak ada yang menggetarkan hatiku seperti dulu. Ya, semua kutolak dengan alasan aku hanya ingin sendiri dulu. Sampai aku pernah bertanya pada diriku sendiri, apakah hati ini sudah mati rasa pasca patah hati terhebatku? haha lucu bukan.

Ah, akulah masih wanita normal pada umumnya, setiap hari aku memohon pada Tuhan agar dipertemukan dengan seseorang yang mampu membuatku lupa aku pernah patah hati begitu dalam, seseorang yang akan menemani masa depanku kelak, Iya, aku sudah tak mau lagi menghabiskan waktuku untuk berlama-lama pacaran.

Sampai pada akhirnya aku mengenalmu tahun lalu, hanya berselang 3 bulan pasca putusnya hubunganku. Ada sesuatu yang tak bisa aku ungkapkan kenapa hatiku bergetar saat mengenalmu, hey bahkan aku belum bertemu denganmu, ketika kau mengajakku untuk bertemu ah maaf jika aku pernah menghindar, aku hanya semakin tak mengerti hatiku semakin bergetar saat itu. Aku terkejut dan munculla kembali pertanyaan "Kamu ini siapa? kenapa kau mampu membuatku seperti ini?" Kamu masuk dan tak sadar aku menghendakinya, jika boleh saja aku jujur, kamu tak rupawan dibanding lelaki2 sebelumnya. Hey jangan berburuk sangka, aku bukanlah wanita yang mecari pria dari fisiknya saja, Kamu perlu tahu, aku tidak pernah melihat seseorang dari seberapa tampan dia, seberapa hebat dia, seberapa besar gajinya dan aku hanya tak mampu menjawab mengapa dan kenapa aku bisa jatuh hati padamu, yang aku tahu kamu orang baik. Itu saja. Bukan mulutku atau mulut orang lain yang mengatakan itu, tapi hatiku.

Terlepas siapapun kamu, seperti apa masa lalumu, aku hanya ingin bilang 'Terima kasih" sudah pernah meluangkan waktumu yang menurutku sangat berharga mengingat sibuknya kamu untuk mengenalku, untuk bertemu lalu menghabiskan sore dan malam mu untuk mendengar celotehku, tawa sumbangku. Aku tak berharap banyak, karena aku pernah berharap pada manusia dan itu menyakitkan, sungguh. Aku tak akan meminta dan menuntut apapun, tenang saja, lakukan apapun yang kamu mau tidak usah pikirkan bagaimana aku. Cukup dengan melihatmu dari kejauhan, melihat senyum mu, melihat wajah kaku dan datarmu, mengamati bagaimana kau berjalan sangat cepat, memantau beberapa aktivitasmu di media socialmu, dan mendoakanmu dalam tiap sujudku.

Entah sejak kapan, aku menguntai namamu dalam doa-ku, Entah untuk siapapun kamu nantinya, aku tak pernah menyesal untuk menjatuhkan hati, karena kamu yang membuatku sadar "Jika cinta, mintalah pada yang menciptakan", karena kamu yang membuatku mengerti "berharaplah jangan pada manusia-nya tapi pada Tuhan", karena kamu yang membuatku merasakan "Tenangnya mencintai ketika kita tetap mendekat pada Tuhan". Walau kamu menjauh, walau kamu tak menunjukkan lagi gelagat kamu menyukaiku tapi tak apa, namamu masih terselip dalam doaku, Ah, mungkin Allah sedang rindu pada doa-doa ku sehingga masih harus membuatku tetap mendoakan-mu hingga sekarang.

-Aku yang mendoakanmu-
Untuk kamu, yang namanya kuhafal dalam doa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar