Jumat, Januari 20, 2017

Impian Bersamamu

Kemarilah, sebentar saja... Aku akan membuatkan teh hangat dengan sedikit gula untukmu

Tulisan ini untuk kamu, yang benar-benar akan kusajikan minum ketika kau bersedia singgah dirumahku sebentar saja lalu aku akan menemanimu berbincang dengan senang hati ..

Rasanya begitu melekat di ingatanku. Sikapmu yang begitu dingin dan kaku, Bibirmu yang lebih sering diam. Senyum kecilmu yang mahal untuk kau tebarkan untuk orang di sekelilingmu.
Yaa.. kamu, yang pernah dua kali menghabiskan sore dan malam untuk saling mengenal. Sayangnya saat itu aku belum berfikiran akan impianku untuk memintamu kepada Tuhan agar kelak menjadi jodohku. Kala itu aku hanya tersenyum mengamati bagaimana kau tersenyum lalu tertawa ditengah wajah datarmu itu, tapi aku bahkan belum meminta dalam hatiku ketika buka puasa tiba.

Tapi ketika kita sudah berpisah dan kembali dengan segudang rutinitas kesibukan kenapa aku baru merasakan anomali? perasaan yang berbeda, ya berbeda karena rindu akan sapaanmu di chat, akan tawamu, akan senyummu saat melihatku berceloteh ria. Kamu sosok laki-laki dewasa yang aku akui kerap membuatku jatuh hati dengan kesederhanaan mu, sangat amat sederhana, jatuh hati dengan sikap dan caramu memandang masa depan. Apa mungkin karena usiamu yang lebih tua dariku? Ah, usia tak menjamin dewasanya seseorang bukan?

Memang terlalu cepat untuk berharap. Semoga harapan ini tak membawa luka yang dalam dan sakit yang begitu memilukan. Maafkan aku kalau saat ini aku sudah terlalu jauh membayangkan kau datang kerumahku dan memintaku pada orang tuaku lalu kita berjodoh. Aku tak pandai berimajinasi namun sepertinya kali ini imajinasiku terlalu jauh melangkah, aku bahkan membayangkan gugupnya aku ketika kau akan membawaku pada keluargamu untuk mengenalkanku sebagai wanita pilihanmu. Lancang sekali bukan imajinasiku? Maafkan aku telah lancang untuk membayangkan semua ini, semua diluar kendaliku. Sedangkan disisi lain aku pun belum tau perasaanmu kepadaku, kau terlalu misterius untuk bisa ku duga duga.
Mungkin selama ini, yang kamu lakukan hanya euforia semata, yang dilakukan seorang laki-laki yang ingin tahu seperti apa perempuan yang sempat ia lirik saat pertamakali berjumpa.
Kalau  yang kamu lakukan itu hanya sekedar ingin tahu saja, lalu bagaimana denganku? Aku sudah terlanjur jatuh hati padamu sebelum berhasil ku cegah, aku sudah terlanjur menyebutmu dalam doa, meminta Tuhan menjadikanmu jodohku, memikirkan seperti apa kita nanti? Apa kamu akan pergi begitu saja ketika kelak kau mengetahui sebesar itu impianku? Aku tak sanggup membayangkan hal itu, melihatmu menjauh saja sudah cukup menyesakkan.

Aku mengharpkan kamu, Catatanku penuh cerita tentangmu. Orang yang aku ceritakan kepada kawanku pun selalu kamu. Dan laki-laki ke-3 yang kusebut setelah ayah dan adikku adalah kamu. Aku sudah lelah mencari cari, aku sudah lelah berkali kali jatuh hati lalu dikecewakan. Aku sudah lelah berjuang tapi ternayata yang aku perjuangkan tidak dikehendaki Tuhan. Semoga kamu, memang bukan orang yang pertama tapi aku harap kamu orang terakhir untuk ku jatuhkan hati.

Maaf jika aku sudah lancang berimajinasi terlalu jauh tentang aku dan kamu yang belum tentu menjadi kita. Tapi izinkan aku untuk terus menguntai nama mu dalam doa ku, sambil aku dan kamu terus memperbaiki diri.


Teruntuk kamu, yang belum lama terucap dalam doa

Kepada kamu yang mungkin beberapa bulan ini sedang ku perbincangkan terhadap Tuhan..

Setelah kejadian patah hati terhebatku itu berlalu, aku menganggap hampir semua lelaki itu sama, Oh tidak tidak aku tak menganggap semua lelaki itu 'brengsek' ataupun menjijikkan karena aku masih memiliki ayah, adik dan sahabat berjenis kelamin Laki-laki. Entahlah aku hanya merasa tak begitu percaya dengan laki-laki.

Berulangkali beberapa hadir untuk mengobati luka, agar aku moveon. Sumpah, tak ada yang menggetarkan hatiku seperti dulu. Ya, semua kutolak dengan alasan aku hanya ingin sendiri dulu. Sampai aku pernah bertanya pada diriku sendiri, apakah hati ini sudah mati rasa pasca patah hati terhebatku? haha lucu bukan.

Ah, akulah masih wanita normal pada umumnya, setiap hari aku memohon pada Tuhan agar dipertemukan dengan seseorang yang mampu membuatku lupa aku pernah patah hati begitu dalam, seseorang yang akan menemani masa depanku kelak, Iya, aku sudah tak mau lagi menghabiskan waktuku untuk berlama-lama pacaran.

Sampai pada akhirnya aku mengenalmu tahun lalu, hanya berselang 3 bulan pasca putusnya hubunganku. Ada sesuatu yang tak bisa aku ungkapkan kenapa hatiku bergetar saat mengenalmu, hey bahkan aku belum bertemu denganmu, ketika kau mengajakku untuk bertemu ah maaf jika aku pernah menghindar, aku hanya semakin tak mengerti hatiku semakin bergetar saat itu. Aku terkejut dan munculla kembali pertanyaan "Kamu ini siapa? kenapa kau mampu membuatku seperti ini?" Kamu masuk dan tak sadar aku menghendakinya, jika boleh saja aku jujur, kamu tak rupawan dibanding lelaki2 sebelumnya. Hey jangan berburuk sangka, aku bukanlah wanita yang mecari pria dari fisiknya saja, Kamu perlu tahu, aku tidak pernah melihat seseorang dari seberapa tampan dia, seberapa hebat dia, seberapa besar gajinya dan aku hanya tak mampu menjawab mengapa dan kenapa aku bisa jatuh hati padamu, yang aku tahu kamu orang baik. Itu saja. Bukan mulutku atau mulut orang lain yang mengatakan itu, tapi hatiku.

Terlepas siapapun kamu, seperti apa masa lalumu, aku hanya ingin bilang 'Terima kasih" sudah pernah meluangkan waktumu yang menurutku sangat berharga mengingat sibuknya kamu untuk mengenalku, untuk bertemu lalu menghabiskan sore dan malam mu untuk mendengar celotehku, tawa sumbangku. Aku tak berharap banyak, karena aku pernah berharap pada manusia dan itu menyakitkan, sungguh. Aku tak akan meminta dan menuntut apapun, tenang saja, lakukan apapun yang kamu mau tidak usah pikirkan bagaimana aku. Cukup dengan melihatmu dari kejauhan, melihat senyum mu, melihat wajah kaku dan datarmu, mengamati bagaimana kau berjalan sangat cepat, memantau beberapa aktivitasmu di media socialmu, dan mendoakanmu dalam tiap sujudku.

Entah sejak kapan, aku menguntai namamu dalam doa-ku, Entah untuk siapapun kamu nantinya, aku tak pernah menyesal untuk menjatuhkan hati, karena kamu yang membuatku sadar "Jika cinta, mintalah pada yang menciptakan", karena kamu yang membuatku mengerti "berharaplah jangan pada manusia-nya tapi pada Tuhan", karena kamu yang membuatku merasakan "Tenangnya mencintai ketika kita tetap mendekat pada Tuhan". Walau kamu menjauh, walau kamu tak menunjukkan lagi gelagat kamu menyukaiku tapi tak apa, namamu masih terselip dalam doaku, Ah, mungkin Allah sedang rindu pada doa-doa ku sehingga masih harus membuatku tetap mendoakan-mu hingga sekarang.

-Aku yang mendoakanmu-
Untuk kamu, yang namanya kuhafal dalam doa