Kemarilah, sebentar saja... Aku akan membuatkan teh hangat dengan sedikit gula untukmu
Tulisan ini untuk kamu, yang benar-benar akan kusajikan minum ketika kau bersedia singgah dirumahku sebentar saja lalu aku akan menemanimu berbincang dengan senang hati ..
Rasanya begitu melekat di ingatanku. Sikapmu yang begitu dingin dan kaku, Bibirmu yang lebih sering diam. Senyum kecilmu yang mahal untuk kau tebarkan untuk orang di sekelilingmu.
Yaa.. kamu, yang pernah dua kali menghabiskan sore dan malam untuk saling mengenal. Sayangnya saat itu aku belum berfikiran akan impianku untuk memintamu kepada Tuhan agar kelak menjadi jodohku. Kala itu aku hanya tersenyum mengamati bagaimana kau tersenyum lalu tertawa ditengah wajah datarmu itu, tapi aku bahkan belum meminta dalam hatiku ketika buka puasa tiba.
Tapi ketika kita sudah berpisah dan kembali dengan segudang rutinitas kesibukan kenapa aku baru merasakan anomali? perasaan yang berbeda, ya berbeda karena rindu akan sapaanmu di chat, akan tawamu, akan senyummu saat melihatku berceloteh ria. Kamu sosok laki-laki dewasa yang aku akui kerap membuatku jatuh hati dengan kesederhanaan mu, sangat amat sederhana, jatuh hati dengan sikap dan caramu memandang masa depan. Apa mungkin karena usiamu yang lebih tua dariku? Ah, usia tak menjamin dewasanya seseorang bukan?
Memang terlalu cepat untuk berharap. Semoga harapan ini tak membawa luka yang dalam dan sakit yang begitu memilukan. Maafkan aku kalau saat ini aku sudah terlalu jauh membayangkan kau datang kerumahku dan memintaku pada orang tuaku lalu kita berjodoh. Aku tak pandai berimajinasi namun sepertinya kali ini imajinasiku terlalu jauh melangkah, aku bahkan membayangkan gugupnya aku ketika kau akan membawaku pada keluargamu untuk mengenalkanku sebagai wanita pilihanmu. Lancang sekali bukan imajinasiku? Maafkan aku telah lancang untuk membayangkan semua ini, semua diluar kendaliku. Sedangkan disisi lain aku pun belum tau perasaanmu kepadaku, kau terlalu misterius untuk bisa ku duga duga.
Mungkin selama ini, yang kamu lakukan hanya euforia semata, yang dilakukan seorang laki-laki yang ingin tahu seperti apa perempuan yang sempat ia lirik saat pertamakali berjumpa.
Kalau yang kamu lakukan itu hanya sekedar ingin tahu saja, lalu bagaimana denganku? Aku sudah terlanjur jatuh hati padamu sebelum berhasil ku cegah, aku sudah terlanjur menyebutmu dalam doa, meminta Tuhan menjadikanmu jodohku, memikirkan seperti apa kita nanti? Apa kamu akan pergi begitu saja ketika kelak kau mengetahui sebesar itu impianku? Aku tak sanggup membayangkan hal itu, melihatmu menjauh saja sudah cukup menyesakkan.
Aku mengharpkan kamu, Catatanku penuh cerita tentangmu. Orang yang aku ceritakan kepada kawanku pun selalu kamu. Dan laki-laki ke-3 yang kusebut setelah ayah dan adikku adalah kamu. Aku sudah lelah mencari cari, aku sudah lelah berkali kali jatuh hati lalu dikecewakan. Aku sudah lelah berjuang tapi ternayata yang aku perjuangkan tidak dikehendaki Tuhan. Semoga kamu, memang bukan orang yang pertama tapi aku harap kamu orang terakhir untuk ku jatuhkan hati.
Maaf jika aku sudah lancang berimajinasi terlalu jauh tentang aku dan kamu yang belum tentu menjadi kita. Tapi izinkan aku untuk terus menguntai nama mu dalam doa ku, sambil aku dan kamu terus memperbaiki diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar