Rabu, November 28, 2012

Aku persembahkan untuk Abah-ku di rumah..


Abah... I love you, I miss you


Aku ingin berbagi share tentang seorang Ayah.. 
Aku ingin nunjukin juga bahwa aku cinta abahku.. yang selalu menasihatiku dengan lembut, tak pernah berkata kasar, yang selalu menunjukkan rasa sayangnya tanpa aku sadari.. ya, Dialah ayah terbaik yang aku miliki.
Ia banyak mengajarkan arti hidup, agama, yang tak pernah lelah berkata bahwa "Aku Bisa" disaat aku sendiripun merasa pesimis..
Aku yang sekarang. semua berkat ayahku, baru aku sadari itu. entah aku tak mampu bayangkan jika waktu itu ayahku tak memotivasiku mungkin aku tak seperti sekarang, duduk di bangku kuliah di PTN di jurusan yang menurutku 'sulit' 
Terima Kasih Abah.. Bilah sayang banget sama abah..

Ini cerita aku kutip dari sebuah Novel "Ayah, cinta yang terlupakan"

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya. Akan sering merasa kangen sekali denganMamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari.

Tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkanMama untuk meneleponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang sering mengajakmu bercerita atau berdongeng.

Tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil,  Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papamengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu.

Kemudian Mama bilang “Jangan dulu Pa, jangan dilepas dulu roda bantunya”

Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tau putri kecilnya PASTI BISA!

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.

TETAPI PAPA akan mengatakan dengan tegas “Boleh , kita beli nanti, tapi tidak sekarang”

Tahukan kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata, “Sudah di bilang! Kamu jangan minum air dingin!”

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.

“Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu”

Ketika kamu sudah beranjak remaja

Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas lalu mengatakan, “Tidak boleh!”

Tahukan kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?

Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat berharga.

Setelah kamu marah pada Papa, dan masuk ke kemar sambil membanting pintu.

Dan yang datang mengetuk pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama.

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya.

Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?


Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Papa adalah duduk diruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut-larut.

Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam, hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang sangat ditakuti Papa akan segera datang?

“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa?”

 Saat lulus SMA..Papa akantetap tersenyum dan mendukungmu walaupun saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa.

Ketika kamu menjadi gadis dewasa, dan kamu harus pergi kuliah ke kota lain.

Papa harus melepasmu dibandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasihat ini-itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati.

Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata disudut matanya, dan menepuk pundakmu sambil berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa



Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang yang pertama mengerutkan kening adalah Papa

Papa pasti berusah keras mencari jalan agar anaknya bisa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tau ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah “Tidak..tidak bisa!”

Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saat kamu diwisuda sebagai seorang sarjana, Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat putri kecilnya yang tidak manja dan berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang

Sampai saat seseorang teman lelakimu datang kerumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin. Karena Papa tau, bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya…

Saat Papa melihatmu duduk di panggung pelaminan bersama seorang lelaki yang dianggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia.

Apakah kamu tahu, dihari yang bahagia itu Papa pergi ke belakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena Papa sangat bahagia, kemudian Papaberdoa…

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata:

“Ya Allah, tugasku telah selesai dengan baik.. Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.. Bahagiakanlah ia bersama suaminya..”

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk

Rambutnya yang telah dan semakin memutih

Dan badan serta lengannya yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya.

Papa telah menyelesaikan tugasnya..

“Kita sering melupakan perannya dibalik perhatian Ibu.
Ayah tetaplah pelindung utama untuk anak-anaknya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar